Rabu, 22 Mei 2013

SEPOTONG PIZZA


Semalam aku sepulang dari Kota Jambi membawa 'tentengan' pizza yang aku beli di salah satu fast food di kota Jambi, dikarenakan di tempat tinggalku yang sebenernya belum layak disebut kota, itu menurutku.

Sesampai di kontrakan, suasana sepi sunyi. Aku rogoh HP ku dari saku celana dan terlihat waktu di HP ku sudah menunjukan pukul 23.48 WIHP (Waktu Indoneia Hand Phone).

Baca selengkapnya

Sadar tak mungkin aku menghabiskan pizza yang ku bawa seorang diri, aku telpon tetanggaku yang juga masih sesama bujangan yang umurnya dibawah umurku. tak ada jawaban dari nomer HP yang aku hubungi, aku ulangi lagi namun tak juga ada jawaban. Malas untuk berfikir (karena lelah) aku ambil posisi untuk tidur.

Terbangun dipagi hari, ku mulai segala rutinitas untuk mengabdi pada negara ini, baru tersadar sesaat hendak berangkat pada rutinitas, helm ku tidak ku temukan di kontrakan ku, pasti dipakai oleh tetangga pikirku, maklum pintu rumah tidak pernah ku kunci saat aku bepergian.

Saat aku pulang dari rutinitas (pulang nya nebeng) ku dapati hiruk pikuk diseputaran tempat tinggalku berkumpul di warung tepi lapangan badminton samping kontrakanku, teringat pada pizza yang telah dingin tentunya.
Ku bawa pizza dingin itu ke warung, hahahaaa tak dapat aku menahan ketawa. Sebagian besar anak-anak di seputaran tempat tinggalku tidak mengetahui yang aku bawa itu bernama pizza.
Tersadar dibenakku inikah yang disebut dengan kota 'Kota Bangko' yang anak-anaknya saja tidak mengetahui apa itu pizza.

Siapa yang salah jika anak-anak diseputaran tempat tinggalku tidak mengetahui kalau yang mereka makan itu adalah potongan pizza. Siapa yang disalahkan?
Orang tua mereka?
Pebisnis fast food yang enggan berinfestasi di kota ini?
Para pekerja (abdi masyarakat) yang tidak bisa mengembangkan kota ini secara ignifikan dibanding kota tetangga?

Entahlah, yang aku tau anak-anak ini tidak mengetahui tentang sepotong pizza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar